Senin, 28 Maret 2011
Suasana Hati
Kerikil tajam itu mulai menyerang. Ku sudah merasakan sakitnya. Sungguh menusuk sehingga membuatku ingin menyerah. Kadang ingin lari dan mencari jalan paling enak. Tapi ku bukan pengecut. Aku sadar sakit ini hanya sebentar. Sakit ini hanya akan terjadi waktu ini saja. Besok akan terasa lebih baik. Kerikil itu mampu menembus kulitku karena aku tidak hati-hati. Maka kuputuskan ku akan membuka mata hatiku lebar-lebar untuk menemani mataku ini. Saat itu ku memang sangat lelah sampai ku terjerumus dalam kecerobohan. Ku hampir terjatuh ke dalam perangkap terdalam, namun untung aku diselamatkan oleh kerikil tajam yang menyakitkan itu. Ku ingin pergi sebentar melihat sedikit asa. Ku ingin melihat mereka untuk membangkitkan keterpurukan ini. Sungguh membuatku merasa berada dalam permainan dimana wasitnya sangat berat sebelah. Mungkin aku kurang terlihat, atau mungkin aku terlalu bodoh. Aku tidak tahu jawabannya. Jika sekarang ku harus sakit, ku memang harus menerimanya. Ku akan merasakan sakit itu sambil mengalahkannya dengan strategi yang tepat. Ku tak ingin meninggalkan bekas sakit itu lagi. Ku akan tersenyum cerah sesudah ini dan meneruskan jalanku. Ku tak boleh mengeluh dengan ketidakadilan ini. Ku harusnya bersyukur melihat kebenaran itu.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar